Saya dulu bekerja di kantor notaris di Surabaya selama delapan tahun, menangani warisan, perceraian, dan sengketa tanah. Pada suatu malam di tahun 2016, teman lama saya, Pak Budi, menelepon dengan suara gemetar. Ia baru saja menerima surat panggilan pengadilan untuk sengketa rumah warisan—sesuatu yang belum pernah ia hadapi. Pertanyaannya sederhana: “Harus mulai dari mana?” Saya mencoba menjelaskan langkah-langkahnya, tapi kata-kata saya berantakan. Di ujung telepon, Pak Budi terdengar semakin bingung. Saat itulah saya sadar: di Indonesia, informasi hukum yang jelas dan tanpa jargon ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Maka, Go To Law lahir—untuk menjawab pertanyaan itu dengan cara yang tidak akan membuat Anda merasa bodoh atau sendirian.
Kami percaya hukum seharusnya bukan labirin yang menakutkan. Setiap panduan di sini ditulis dalam Bahasa Indonesia sehari-hari, tanpa istilah Latin yang membingungkan atau kalimat berbelit-belit. Misalnya, alih-alih bilang “eksekusi putusan,” kami tulis: “Langkah 7: Bagaimana cara memaksa pihak lain mematuhi keputusan hakim.” Kami juga tidak menggunakan gambar atau video—hanya teks mentah yang bisa Anda baca di mana saja, bahkan saat menunggu giliran di pengadilan. Semua konten dibuat berdasarkan pengalaman langsung, bukan teori dari buku. Seperti saat kami menjelaskan cara mengurus surat kuasa khusus: kami sertakan contoh formulir yang pernah dipakai di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, lengkap dengan catatan kecil di bagian mana yang sering ditolak panitera.
Visi kami sederhana: agar tidak ada lagi orang Indonesia yang merasa hukum adalah sesuatu yang hanya bisa dimengerti oleh pengacara. Kami ingin Anda tahu bahwa proses persidangan, meski rumit, bisa dipecah menjadi langkah-langkah kecil yang bisa diikuti. Seperti saat kami membimbing Ibu Siti dari Bandung untuk mengajukan gugatan cerai: ia awalnya hanya tahu bahwa ia “ingin pisah,” tapi setelah membaca panduan kami, ia bisa menyiapkan dokumen sendiri dan bahkan memahami risiko jika tidak hadir di sidang. Kami tidak menjanjikan kemenangan, tapi kami berjanji untuk tidak menyembunyikan apa pun—termasuk biaya-biaya tersembunyi yang sering tidak dijelaskan di tempat lain.
Setiap artikel di sini lahir dari pertanyaan nyata: dari “Bagaimana cara mengecek apakah sertifikat tanah saya palsu?” hingga “Apa yang harus dilakukan jika mantan suami tidak membayar nafkah?” Kami tidak menulis untuk pengacara, tapi untuk orang-orang seperti Pak Budi, Ibu Siti, atau Anda—yang tiba-tiba harus berhadapan dengan sistem hukum dan merasa dunia serasa jungkir balik. Jika Anda pernah merasa bingung, frustrasi, atau takut saat berurusan dengan hukum, ketahuilah: Anda tidak sendirian. Dan kami ada di sini untuk membantu Anda melangkah, satu tahap demi satu tahap.
